Bos Ripple Kritik BTC dan ETH Monopoli terlalu Banyak Energi

2020-03-04 17:15:06

KoinRocket.id - Brad Garlinghouse, CEO Ripple, salah satu perusahaan blockchain dan cryptocurrency terkemuka di dunia, mengkritik mengenai aktivitas penambangan Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH).

Dilansir dari U.today, Rabu (3/3/2020), menanggapi studi yang dilakukan pakar blockchain dari PwC Alex de Vries, Brad Garlinghouse menyatakan bahwa Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) memonopoli terlalu banyak energi.

Menurut Brad Garlinghouse, ini sangat mengejutkan bahwa penambangan cryptocurrency tidak lebih tinggi dalam agenda perubahan iklim global.

Sebelumnya, Alex De Vries mencatat bahwa penambangan Bitcoin saat ini mengkonsumsi lebih banyak sumber daya listrik daripada negara Chile karena hashrate-nya terus mengalami peningkatan.

Selain itu, dia juga mengungkapkan bahwa Bitcoin menghasilkan lebih banyak limbah elektronik ketimbang Luxembourg. Hampir 98 persen limbah elektronik dari semua penambang yang ada diperkirakan akan bermuara ke tempat pembuangan sampah.

Borosnya penambangan Bitcoin sudah lama menjadi masalah. Sejumlah aktivis lingkungan sejauh ini sudah mengusulkan untuk mengambil semua aset dari para penambang untuk membayar perbaikan iklim.

Untuk diketahui, penambangan Bitcoin menggunakan kekuatan komputasi untuk tetap beroperasi. Meski mengonsumsi listrik dalam jumlah besar, 74 persen penambangan BTC menggunakan energi terbarukan, sehingga mengurangi kerusakan lingkungannya.

Kendati demikian, Bitcoin membutuhkan energi. Artinya mata uang digital ini diklaim memiliki nilai intrinsik yang nyata. Sedangkan, XRP adalah pra-ditambang yang tak luput dari kritikan karena sifat sentralisasinya.

Ripple Labs menguasi 60 persen dari pasokan 100 miliar XRP. Namun CTO Ripple David Schwartz menyatakan, XRP lebih terdesentralisasi daripada BTC atau ETH.


Source: U.today

Foto: Theblockcrypto.com

Penulis/Editor: Andri Alfansyah