2 Hal Penting untuk Diperhatikan Jika Tak Mau Jadi Korban Pinjaman Online

2019-07-29 14:26:31

Director Marcomm & Community Development Asosiasi FinTech Indonesia (Aftech) Tasa Nugraza Barley buka suara mengenai kasus kontroversial soal aplikasi pinjaman online yang mengambil data pengguna tanpa izin.

Sebagaimana dikutip dari Liputan6.com, Senin (29/7/2019), Barley menyatakan bahwa kasus tersebut menjadi pelajaran bersama bagi para konsumen.

Menurutnya, ada dua faktor yang penting untuk diperhatikan pengguna sebelum mengajukan pinjaman online, yakni mengetahui apakah aplikasi pinjaman online tersebut legal atau tidak, dan membaca syarat dengan teliti.

"Pertama yang harus kita lihat adalah perusahaan fintech itu terdaftar di OJK atau enggak. Kedua, setelah diyakinkan legal, pengguna juga harus benar-benar berhati-hati dalam memberikan akses terhadap data dia dan sebagainya, jadi harus dibaca tuntas syarat dan ketentuan yang berlaku seperti apa," ungkapnya.

Pengguna yang mengajukan pinjaman online disebutkan cenderung ingin buru-buru mendapatkan uang, tetapi mereka tetap harus membaca aturan jika tak ingin data-data di smartphone mereka diketahui.

Dalam menawarkan pinjaman online, semua anggota Aftech harus mengikuti Code of Conduct yang berlaku dan semua aturan OJK. Untuk diketahui, OJK melarang aplikasi untuk mengambil data tertentu seperti galeri foto, buku telepon, dan data personal pengguna.

Namun menurut laporan yang diterima Lembaga Bantuan Hukum (LBH), ada saja aplikasi pinjaman online yang kerap mengambil data konsumen. Data tersebut kemudian digunakan untuk mengirim tagihan ke rekan kerja atau teman SD mereka.

LBH Jakarta menyatakan, platform pinjaman online atau pinjol yang mengambil data konsumen tanpa izin telah melanggar hukum yang ditetapkan. Dalam catatannya, mereka menyebutkan sampai akhir tahun lalu ada sekitar 283 korban pinjol telah mengadukan berbagai bentuk pelanggaran hukum.

Dalam situs web resminya, LBH Jakarta mengungkapkan kasus pinjol sudah meluas sejak Juni 2018. Salah satunya adalah cara penagihan pinjaman online kepada konsumen secara tidak dipatut.

Berikut adalah cara-cara tidak patut yang dilakukan pinjol ilegal kepada konsumennya menurut LBH Jakarta:

- Penagihan dengan berbagai cara mempermalukan, memaki, mengancam, memfitnah, bahkan dalam bentuk pelecehan seksual;
- Penagihan dilakukan kepada seluruh nomor kontak yang ada di ponsel konsumen/peminjam (ke atasan kerja, mertua, teman SD, dan lain-lain); 
- Bunga pinjaman yang sangat tinggi dan tidak terbatas;
- Pengambilan data pribadi (kontak, sms, panggilan, kartu memori, dan lain-lain) di telepon seluler (ponsel) konsumen/peminjam;
Penagihan baik belum waktunya dan tanpa kenal waktu;
- Nomor pengaduan pihak penyelenggara pinjaman online yang tidak selalu tersedia;
- Alamat kantor perusahaan penyelenggara pinjaman online yang tidak jelas;
- Aplikasi pinjaman online yang berganti nama tanpa pemberitahuan kepada konsumen/peminjam selama berhari-hari namun bunga pinjaman selama proses perubahan nama tersebut terus berjalan.

Cara-cara semacam ini jelas berdampak buruk bagi konsumen. Seperti peminjam di-PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja karena penagihan ke nomor yang ada di ponsel, diceraikan oleh suami/istri mereka karena penagihan ditujukan ke mertua, trauma dengan ancaman, kata-kata kotor, dan pelecehan seksual).

Selain itu, peminjam juga akhirnya frustasi karena beban bunga yang terlalu tinggi dan tak mampu dibayar. Bahkan ada berupaya menjual organ tubuh (misalnya ginjal) hingga bunuh diri.

 

Foto: MoneySmart